Mimpi seorang tukang tambal ban…
Juni 11, 2008
Aku dibesarkan di sebuah desa terpencil bernama Gambarsari. Tepatnya 17 kilometer selatan kota Purwokerto. Masih ingat betul dalam ingatanku ketika matahari mulai terbenam Bapak sibuk membersihkan dan menyalakan petromaks (sejenis alat penerangan dari minyak tanah). Sementara Ibu berusaha memasukkan ayam-ayam ke dalam kandang, menghitungnya, dan segera mengikat pintu kandang. Sedih rasanya bila malam telah datang, sunyi, senyap, gelap, dan sesekali terdengar suara desing nyamuk berterbangan. Terdengar suara berita dari radio transistor tetangga yang dinyalakan dengan batu batrey merk ABC setelah dijemur seharian. Aku hanya termenung duduk berkerodong kain sarung di ruang tamu di bawah temaram cahaya petromaks. Ibu menghampiri dan menyuapkan nasi ke dalam mulutku, walaupun aku sudah berusia 5 tahun tetapi Ibu masih melakukan hal ini. Tiba-tiba suara Kakek memanggilku dan mengajak nonton TV di Balaidesa. Betapa bahagianya aku, dengan berbekal tikar anyaman daun pandan aku bergegas pergi bersama Kakek ke Balaidesa. Aku gelar tikar di atas batuan halaman Balaidesa. Aku melihat TV hitam putih 14″ (yang dinyalakan dengan accu) dari jarak 20m, karena tempat di depan sudah banyak orang.
Kehidupan keluarga aku sangat sederhana. Bapak adalah seorang CPNS di DPU sementara Ibu juga CPNS di P dan K. Terkadang aku harus merelakan keinginanku untuk membeli sesuatu, karena penghasilan dari kedua orang tua aku digunakan untuk membiayai sekolah adik dari Ibu yang berjumlah 7 (tujuh) orang. Ketika aku berusia 6 tahun, aku disekolahkan di sebuah Sekolah Dasar Negeri Impres Gambarsari di desaku. Tiap hari berbekal buku tulis bersampul kertas buram berwarna coklat aku pergi ke sekolah walaupun tanpa sepatu. Sejak kelas V SD aku mulai berjualan kacang bawang di sekolah atau menitipkannya di koperasi sekolah. Aku sebenarnya malu melakukan hal ini, tapi dengan cara ini aku bisa membeli buku dan pensil. Namun sayang sekolah tempatku menimba ilmu kini telah ditenggelamkan oleh pembangunan Bendung Gerak Serayu di jaman pemerintahan Bapak Soeharto.
Setelah aku tamat dari SD, kemudian melanjutkan ke SMP N Sampang yang berjarak 5 (lima) kilometer dari rumahku. Tiap hari dengan menaiki sepeda bekas aku berangkat ke sekolah melalui area persawahan yang sangat luas dan sepi. Aku tak pernah membayangkan ketika aku berangkat sekolah sering menjumpai kerumunan orang karena ada mayat yang tergeletak di pinggir jalan. Waktu itu terkenal sekali dengan istilah “Petrus”. Sampai sekarang aku juga tidak tau apa sebenarnya “Petrus” itu. Sepulang dari sekolah aku harus membantu Bapak dengan menjadi tukang tambal ban sepeda motor. Tidak jarang satu-satunya adik aku sering diolok-olok oleh temannya sebagai anak tukang tambal ban.
Ketika lulus SMP aku berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti tes masuk ke SMA Taruna Nusantara Magelang. Kedua orang tua, Kakek dari Bapak, dan Nenek dari Ibu, hampir tiap tengah malam melakukan shalat sunat mendoakan aku agar bisa diterima di sekolah Calon Pemimpin Bangsa. Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doa hamba-Nya dan aku dinyatakan lulus ujian masuk SMA TN. Semenjak itu aku tinggal di asrama sekolah di Magelang. Aku jarang sekali ditengok kedua orang tua, dan aku pulang ke rumah 2 (dua) kali dalam setahun. Hati ini rasanya hancur ketika di siang hari aku membaca surat dari Ibu, bahwa rumah kami satu-satunya di kampung terpaksa harus dijual. Kedua orang tua aku mempunyai beban hutang yang sangat besar jumlahnya saat itu. Sehingga mereka terpaksa tinggal di Perumahan Dinas yang dihuni oleh 2 (dua) keluarga dalam satu rumah.
Setelah tamat dari SMA aku bertekad kuliah walaupun kedua orang tua aku tidak sanggup membiayai. Dengan semangat dan doa aku diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Jakarta. Sebuah perguruan tinggi kedinasan di bawah Departemen Keuangan dan tidak dipungut biaya apapun selama kuliah. Aku ingat betul kedua orang tua aku hanya sanggup kirim uang sebesar Rp. 80.000,- per bulan. Dari jumlah itu harus aku sisihkan untuk bayar kost sebesar Rp. 40.000,- dan sisanya buat makan dan lain-lain selama sebulan. Aku mengerti uang tersebut adalah jerih payah kedua orang tuaku yang kadang kala harus mengumpulkan dari saudara-saudara di kampung atau meminjam ke tetangga. Tapi aku sangat bersyukur karena lewat STAN inilah aku bisa diangkat menjadi PNS di Ditjen Pajak Departemen Keuangan sampai sekarang. Disela-sela pekerjaan kantor aku melanjutkan kuliah di Perbanas Jakarta jurusan akuntansi. Walapun relatif lama akhirnya aku berhasil menamatkan pendidikan S1 sebagai Sarjana Ekonomi. Aku bangga karena di kampung aku jarang sekali ada sarjana. Mungkin inilah salah satu cara menunjukkan baktiku kepada orang tua. Semua pengorbanan kedua orang tua tidak bisa dinilai dengan materi. Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku selalu tersenyum dan bahagia di hari tuanya. Semoga aku bisa menjadi anak yang diharapkan oleh mereka.
Saat ini aku telah berkeluarga dan mempunyai 2 (dua) orang anak laki-laki. Aktivitas sehari-hari disamping
sebagai PNS, aku mengisi hari liburku dengan kegiatan tambahan di bidang rental sound system (solo organ & chamber), advertising (indoor and outdoor solutions), dan menjadi Direct Sales Agency salah satu bank internasional. Semoga dengan cara ini aku bisa membuka lapangan kerja dan bermanfaat bagi orang lain.
Entry Filed under: Keluarga. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
nindityo | Juni 13, 2008 at 10:07 pm
wuih..
*langsung menjura dalam-dalam*
2.
syafrianto | Juli 14, 2008 at 2:41 pm
Nov, ini cerita autobiografi kamu ya? kalo emang iya, waktu SMPnya itu tahun berapa? emangnya waktu kamu SMP masih ada “PETRUS” ya? Seingat aku sih, PETRUS itu sekitar tahun 1980-1982 deh…
3.
novimunarianto | Juli 14, 2008 at 5:11 pm
Mas Syafrianto,….
Apa kabar?
Saya SMP tahun 1987-1990. Pada tahun 1987 di kampung saya masih sering dijumpai mayat orang tak dikenal di pinggir jalan. Orang yang berkerumun selalu bilang ada “Petrus”. Kejadian tersebut di jalan persawahan antara Desa Gambarsari dengan Desa Sampang, kurang lebih berjarak 3km.
4.
Ambar H Ariseno | Agustus 13, 2008 at 3:51 pm
Oalah Nov…. jauh-jauh aku blogwalking, ternyata nyasar di blognya konco dhewe… hehehe… btw, blognya lama gak diapdet ya? sibuk ngapain, Pak?
Anyway.. nice blog, nice story… keep bloging, prend…